Egosistem – Pendahuluan Sebelum Pembahasan

Posted on

EGOSISTEM – Sekarang sudah hampir setiap saat kita mendengar kabar buruk dari Indonesia entah itu bencana atau kerusuhan. Dunia kini semakin tua dan bencana sudah terjadi dimana-mana, kemarin kita dengan berita banjir, kemarin kita dengar berita tsunami, kemarin kita dengan berita gempa, kemarin kita dengan berita kebakaran, kemarin kita dengan berita kekeringan, setiap saat kita selalu saja mendengar banyak orang menderita.

Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dan nonhayati yang membentuk sistem ekologi. Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Ekosistem menunjukan keseimbangan dengan suatu mata rantai yang saling bersinggungan dan saling mempengaruhi. Lalu apa bedanya dengan egosistem?

Manusia dan alam merupakan kompleksitas yang saling membutuhkan. Manusia membutuhkan udara untuk bernafas, manusia membutuhkan tanah untuk bercocok tanam, manusia membutuhkan air untuk minum manusia membutuhkan alam untuk tempat tinggal.

Manusia dan alam seharusnya bisa bersahabat. Manusia dan alam harusnya saling melindungi dan melestarikan.

Namun pada kenyataannya manusia merasa ingin memiliki lebih dari apa yang telah diberikan. Dikarenakan sifat egois manusia akhirnya bisa merusak keseimbangan alam. Kata yang tepat untuk kejadian ini adalah “egosistem“.

Egosistem sendiri bisa diartikan sebagai hubungan yang sifatnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri (egoisme) dan tidak memperdulikan lingkungannya.
Penjelasan lengkap mengenai egosistem

Sebelum Menuju Pembahasan

Dikarenakan oleh banyaknya kejadian buruk yang sering saya dengar sekarang ini, membuat saya ingin menulis beberapa pembahasan yang mungkin nanti akan dilanjutkan pada tulisan saya berikutnya.

Tulisan mengenai egosistem menceritakan sedikitnya tentang kehidupan pribadi saya mulai dari kecil sampai sekarang ini. nanti saya akan membahas mengenai perubahan mengenai dunia yang terjadi selama ini.

Dimana pada masa dulu alam masih bisa dinikmati, namun sekarang sudah hampir mati. Dimana sungai kita jadikan tempat bermain, sekarang sudah hampir tidak bisa digunakan lagi.

Sekarang sudah banyak bencana alam yang menimpa dunia entah itu dari Indonesia sendiri atau bahkan luar negeri. Mereka seakan kurang peduli dengan kejadian yang sudah terjadi, bencana yang terjadi banyak diabaikan oleh banyak orang dan mungkin hanya menjadi peringatan bagi sebagian orang saja.

Baca Juga: 5 Tanda Seorang Eccedentesiast atau Seseorang yang Menyembunyikan Kesedihan Dibalik Senyuman

Apa yang akan dibahas nanti?

Pada tulisan berikutnya saya akan membagikan berbagai cerita tentang apa yang telah saya alami selama ini. Khususnya mengenai perubahan alam dan dunia ini hingga perubahan dari sifat-sifat manusia hingga saat ini.

Karena jika dibandingkan dengan zaman dulu, dimana teknologi masih belum berkembang cepat di Indonesia, semua orang masih memiliki rasa peduli didalam dirinya meskipun itu sedikit.

Tapi sekarang semuanya sudah tidak sama lagi, interaksi antar manusia sudah berbeda lagi. Sekarang perhatian utama mereka hanya smartphone yang membuatnya mengabaikan sekitar. Interaksi antar manusia semakin terganggu, banyak orang dibodohi media. Rasa peduli manusia kini sudah hampir hilang, mereka seperti sudah tidak memiliki rasa peduli terhadap apapun terutama alam dan lingkungannya. Mungkin jika kecepatan internet mereka lambat baru mereka peduli.

Kelak dunia ini akan hancur dengan cepat diakibatkan oleh apa yang manusia perbuat. Mereka sendiri yang membuat dunia hancur dan mereka sendiri juga yang akan merasakan akibatnya. Sekarang kita hanya menunggu waktu saja.

Apa yang akan terjadi berikutnya?

Melihat semua kejadian buruk yang sering terjadi saat ini membuat saya teringat sesuatu. Saya pernah mendengar sebuah ramalan yang disebut Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya yang dipercaya ditulis oleh raja Kerajaan Kediri, Jayabaya. Dimana isinya seperti ini:

  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran —> Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Tanah Jawa kalungan wesi —> Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang —> Perahu berjalan di angkasa.
  4. Kali ilang kedhunge —> Sungai kehilangan mata air.
  5. Pasar ilang kumandhang —> Pasar kehilangan suara.
  6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak —> Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sekilan bumi dipajeki —> Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Jaran doyan mangan sambel —> Kuda suka makan sambal.
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang —>Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman —> Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik.
  12. Akeh janji ora ditetepi —> Banyak janji tidak ditepati.
  13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe —> Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah —> Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi —> Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
  16. Barang jahat diangkat-angkat —> Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci —> Yang suci (justru) dibenci.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwi t—> Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lali kamanungsan —> Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan —> Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang —> Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak —> Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu —>Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa —> Menantang ayah.
  25. Sedulur padha cidra —> Saudara dan saudara saling khianat.
  26. Kulawarga padha curiga —> Keluarga saling curiga.
  27. Kanca dadi mungsuh —> Kawan menjadi lawan.
  28. Akeh manungsa lali asale —> Banyak orang lupa asal usul.
  29. Ukuman Ratu ora adil —> Hukuman Raja tidak adil.
  30. Akeh pangkat sing jahat lan ganji l—> Banyak pejabat jahat dan ganjil
  31. Akeh kelakuan sing ganjil —> Banyak ulah-tabiat ganjil
  32. Wong apik-apik padha kapencil —> Orang yang baik justru tersisih.
  33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin —> Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
  34. Luwih utama ngapusi —> Lebih mengutamakan menipu.
  35. Wegah nyambut gawe —> Malas untuk bekerja.
  36. Kepingin urip mewah —> Inginnya hidup mewah.
  37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka —> Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  38. Wong bener thenger-thenger —> Orang (yang) benar termangu-mangu.
  39. Wong salah bungah —> Orang (yang) salah gembira ria.
  40. Wong apik ditampik-tampik —> Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
  41. Wong jahat munggah pangkat —> Orang (yang) jahat naik pangkat.
  42. Wong agung kasinggung —> Orang (yang) mulia dilecehkan
  43. Wong ala kapuja —> Orang (yang) jahat dipuji-puji.
  44. Wong wadon ilang kawirangane —> perempuan hilang malu.
  45. Wong lanang ilang kaprawirane —> Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
  46. Akeh wong lanang ora duwe bojo —> Banyak laki-laki tak mau beristri.
  47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone —> Banyak perempuan ingkar pada suami.
  48. Akeh ibu padha ngedol anake —> Banyak ibu menjual anak.
  49. Akeh wong wadon ngedol awake —> Banyak perempuan menjual diri.
  50. Akeh wong ijol bebojo —> Banyak orang gonta-ganti pasangan.
  51. Wong wadon nunggang jaran —> Perempuan menunggang kuda.
  52. Wong lanang linggih plangki —> Laki-laki naik tandu.
  53. Randha seuang loro —> Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  54. Prawan seaga lima —> Lima perawan lima picis.
  55. Dhudha pincang laku sembilan uang —> Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Akeh wong ngedol ngelmu —> Banyak orang berdagang ilmu.
  57. Akeh wong ngaku-aku —> Banyak orang mengaku diri.
  58. Njabane putih njerone dhadhu —> Di luar putih di dalam jingga.
  59. Ngakune suci, nanging sucine palsu —> Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  60. Akeh bujuk akeh lojo—> Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Akeh udan salah mangsa—> Banyak hujan salah musim.
  62. Akeh prawan tuwa—> Banyak perawan tua.
  63. Akeh randha nglairake anak—> Banyak janda melahirkan bayi.
  64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne—> Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  65. Agama akeh sing nantang—> Agama banyak ditentang.
  66. Prikamanungsan saya ilang—> Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Omah suci dibenci—> Rumah suci dijauhi.
  68. Omah ala saya dipuja—> Rumah maksiat makin dipuja.
  69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi—> Perempuan lacur dimana-mana.
  70. Akeh laknat—> Banyak kutukan.
  71. Akeh pengkianat—> Banyak pengkhianat.
  72. Anak mangan bapak—> Anak makan bapak.
  73. Sedulur mangan sedulur—> Saudara makan saudara.
  74. Kanca dadi mungsuh—> Kawan menjadi lawan.
  75. Guru disatru—> Guru dimusuhi.
  76. Tangga padha curiga—>Tetangga saling curiga.
  77. Kana-kene saya angkara murka —> Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  78. Sing weruh kebubuhan—> Barangsiapa tahu terkena beban.
  79. Sing ora weruh ketutuh—> Sedang yang tak tahu disalahkan.
  80. Besuk yen ana peperangan—> Kelak jika terjadi perang.
  81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—> Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
  82. Akeh wong becik saya sengsara—> Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Wong jahat saya seneng—> Sedang yang jahat makin bahagia.
  84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul—> Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Wong salah dianggep bener—> Orang salah dipandang benar.
  86. Pengkhianat nikmat—> Pengkhianat nikmat.
  87. Durjana saya sempurna—> Durjana semakin sempurna.
  88. Wong jahat munggah pangkat—> Orang jahat naik pangkat.
  89. Wong lugu kebelenggu—> Orang yang lugu dibelenggu.
  90. Wong mulya dikunjara—> Orang yang mulia dipenjara.
  91. Sing curang garang—> Yang curang berkuasa.
  92. Sing jujur kojur—> Yang jujur sengsara.
  93. Pedagang akeh sing keplarang—> Pedagang banyak yang tenggelam.
  94. Wong main akeh sing ndadi—> Penjudi banyak merajalela.
  95. Akeh barang haram—> Banyak barang haram.
  96. Akeh anak haram—Banyak anak haram.
  97. Wong wadon nglamar wong lanang—> Perempuan melamar laki-laki.
  98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—> Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  99. Akeh barang-barang mlebu luang—> Banyak barang terbuang-buang.
  100. Akeh wong kaliren lan wuda—> Banyak orang lapar dan telanjang.
  101. Wong tuku ngglenik sing dodol—> Pembeli membujuk penjual.
  102. Sing dodol akal okol—> Si penjual bermain siasat.
  103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—> Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
  104. Sing kebat kliwat—> Yang tangkas lepas.
  105. Sing telah sambat—> Yang terlanjur menggerutu.
  106. Sing gedhe kesasar—> Yang besar tersasar.
  107. Sing cilik kepleset—> Yang kecil terpeleset.
  108. Sing anggak ketunggak—> Yang congkak terbentur.
  109. Sing wedi mati—> Yang takut mati.
  110. Sing nekat mbrekat—> Yang nekat mendapat berkat.
  111. Sing jerih ketindhih—> Yang hati kecil tertindih
  112. Sing ngawur makmur—> Yang ngawur makmur
  113. Sing ngati-ati ngrintih—> Yang berhati-hati merintih.
  114. Sing ngedan keduman—> Yang main gila menerima bagian.
  115. Sing waras nggagas—> Yang sehat pikiran berpikir.
  116. Wong tani ditaleni—> Orang (yang) bertani diikat.
  117. Wong dora ura-ura—> Orang (yang) bohong berdendang.
  118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane–> -Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
  119. Bupati dadi rakyat—> Pegawai tinggi menjadi rakyat.
  120. Wong cilik dadi priyayi—> Rakyat kecil jadi priyayi.
  121. Sing mendele dadi gedhe—> Yang curang jadi besar.
  122. Sing jujur kojur—> Yang jujur celaka.
  123. Akeh omah ing ndhuwur jaran—> Banyak rumah di punggung kuda.
  124. Wong mangan wong—> Orang makan sesamanya.
  125. Anak lali bapak—> Anak lupa bapa.
  126. Wong tuwa lali tuwane—> Orang tua lupa ketuaan mereka.
  127. Pedagang adol barang saya laris—> Jualan pedagang semakin laris.
  128. Bandhane saya ludhes—> Namun harta mereka makin habis.
  129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—> Banyak orang mati lapar di samping makanan.
  130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—> Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
  131. Sing edan bisa dandan—> Yang gila bisa bersolek.
  132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—> Si bengkok membangun mahligai.
  133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—> Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
  134. Ana peperangan ing njero—> Terjadi perang di dalam.
  135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—> Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
  136. Durjana saya ngambra-ambra—> Kejahatan makin merajalela.
  137. Penjahat saya tambah—> Penjahat makin banyak.
  138. Wong apik saya sengsara—> Yang baik makin sengsara.
  139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—> Banyak orang mati karena perang.
  140. Kebingungan lan kobongan—> Karena bingung dan kebakaran.
  141. Wong bener saya thenger-thenger—> Si benar makin tertegun.
  142. Wong salah saya bungah-bungah—> Si salah makin sorak sorai.
  143. Akeh bandha musna ora karuan lungane—> Banyak harta hilang entah ke mana
  144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—> Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
  145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—> Banyak barang haram, banyak anak haram.
  146. Bejane sing lali, bejane sing eling—> Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
  147. Nanging sauntung-untunge sing lali—> Tapi betapapun beruntung si lupa.
  148. Isih untung sing waspada—> Masih lebih beruntung si waspada.
  149. Angkara murka saya ndadi—> Angkara murka semakin menjadi.
  150. Kana-kene saya bingung—> Di sana-sini makin bingung.
  151. Pedagang akeh alangane—> Pedagang banyak rintangan.
  152. Akeh buruh nantang juragan—> Banyak buruh melawan majikan.
  153. Juragan dadi umpan—> Majikan menjadi umpan.
  154. Sing suwarane seru oleh pengaruh—> Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
  155. Wong pinter diingar-ingar—> Si pandai direcoki.
  156. Wong ala diuja—> Si jahat dimanjakan.
  157. Wong ngerti mangan ati—> Orang yang mengerti makan hati.
  158. Bandha dadi memala—> Hartabenda menjadi penyakit
  159. Pangkat dadi pemikat—> Pangkat menjadi pemukau.
  160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang —> Yang sewenang-wenang merasa menang
  161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—> Yang mengalah merasa serba salah.
  162. Ana Bupati saka wong sing asor imane—> Ada raja berasal orang beriman rendah.
  163. Patihe kepala judhi—> Maha menterinya benggol judi.
  164. Wong sing atine suci dibenci—> Yang berhati suci dibenci.
  165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—> Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
  166. Pemerasan saya ndadra—> Pemerasan merajalela.
  167. Maling lungguh wetenge mblenduk —> Pencuri duduk berperut gendut.
  168. Pitik angrem saduwure pikulan—> Ayam mengeram di atas pikulan.
  169. Maling wani nantang sing duwe omah—> Pencuri menantang si empunya rumah.
  170. Begal pada ndhugal—> Penyamun semakin kurang ajar.
  171. Rampok padha keplok-keplok—> Perampok semua bersorak-sorai.
  172. Wong momong mitenah sing diemong—> Si pengasuh memfitnah yang diasuh
  173. Wong jaga nyolong sing dijaga—> Si penjaga mencuri yang dijaga.
  174. Wong njamin njaluk dijamin—> Si penjamin minta dijamin.
  175. Akeh wong mendem donga—> Banyak orang mabuk doa.
  176. Kana-kene rebutan unggul—> Di mana-mana berebut menang.
  177. Angkara murka ngombro-ombro—> Angkara murka menjadi-jadi.
  178. Agama ditantang—> Agama ditantang.
  179. Akeh wong angkara murka—> Banyak orang angkara murka.
  180. Nggedhekake duraka—> Membesar-besarkan durhaka.
  181. Ukum agama dilanggar—> Hukum agama dilanggar.
  182. Prikamanungsan di-iles-iles—> Perikemanusiaan diinjak-injak.
  183. Kasusilan ditinggal—> Tata susila diabaikan.
  184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—> Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
  185. Wong cilik akeh sing kepencil—> Rakyat kecil banyak tersingkir.
  186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—> Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
  187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—> Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
  188. Lan duwe prajurit—> Dan punya prajurit.
  189. Negarane ambane saprawolon—> Lebar negeri seperdelapan dunia.
  190. Tukang mangan suap saya ndadra—> Pemakan suap semakin merajalela.
  191. Wong jahat ditampa—> Orang jahat diterima.
  192. Wong suci dibenci—> Orang suci dibenci.
  193. Timah dianggep perak—> Timah dianggap perak.
  194. Emas diarani tembaga—> Emas dibilang tembaga.
  195. Dandang dikandakake kuntul—> Gagak disebut bangau.
  196. Wong dosa sentosa—> Orang berdosa sentosa.
  197. Wong cilik disalahake—> Rakyat jelata dipersalahkan.
  198. Wong nganggur kesungkur—> Si penganggur tersungkur.
  199. Wong sregep krungkep—> Si tekun terjerembab.
  200. Wong nyengit kesengit—> Orang busuk hati dibenci.
  201. Buruh mangluh—> Buruh menangis.
  202. Wong sugih krasa wedi—> Orang kaya ketakutan.
  203. Wong wedi dadi priyayi—> Orang takut jadi priyayi.
  204. Senenge wong jahat—> Berbahagialah si jahat.
  205. Susahe wong cilik—> Bersusahlah rakyat kecil.
  206. Akeh wong dakwa dinakwa—> Banyak orang saling tuduh.
  207. Tindake manungsa saya kuciwa—> Ulah manusia semakin tercela.
  208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—> Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
  209. Wong Jawa kari separo—> Orang Jawa tinggal setengah.
  210. Landa-Cina kari sejodho —> Belanda – Cina tinggal sepasang.
  211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—> Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
  212. Sing eman ora keduman—> Si hemat tidak mendapat bagian.
  213. Sing keduman ora eman—> Yang mendapat bagian tidak berhemat.
  214. Akeh wong mbambung—> Banyak orang berulah dungu.
  215. Akeh wong limbung—> Banyak orang limbung.
  216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka—> Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

Jika diperhatikan, apa yang telah disebutkan tadi memang banyak yang sudah terjadi. Dimana sekarang dunia semakin kacau dan manusia semakin kehilangan harga dirinya. Perbuatan keji semakin merajalela dan orang-orang baik tersingkirkan.

Apa yang harus dilakukan?

Sekarang yang perlu kita lakukan hanya sadar. Sadar dari apa yang telah kita perbuat, sadar dari apa yang telah dilakukan selama ini. Menurut Islam, sekarang ini sudah dinamakan dengan akhir zaman. Memang sudah terbukti sekarang sudah sedikit manusia khususnya muslim yang sadar akan kewajibannya dan mementingkan urusan dunianya. Padahal semuanya juga akan ditinggalkan, yang dibawa hanya bekal iman.

Bisa kita contoh dari kejadian-kejadian kemarin, ditemukan banyak rumah roboh akibat tsunami, banyak mobil rusak akibat gempa, uang ratusan juta rusak karena tsunami. Semua itu memperingatkan kita semua bahwa apa yang ada di dunia tidak akan dibawa mati. Jadi sekarang kita hanya perlu untuk meningkatkan kesadaran kita dan mulai meninggalkan sifat cinta dunia. Jangan sengsara dunia sengsara juga akhiratnya.

Belum selesai

Mungkin sekian saja beberapa tulisan yang bisa disampaikan oleh saya pada kesempatan kali ini. Saya akan membuat beberapa tulisan lain mengenai EGOSISTEM pada artikel berikutnya.

Terimakasih sudah membaca sampai sini.

Kasih Bintang Atuh!

Gravatar Image
DakiSemut tempat mencari kesenangan sambil mendapatkan penghasilan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *